Minggu, 26 Desember 2010

Derita Rohati di Saudi: Disiksa, Lompat dari Loteng

Jember - Slamet Mahfud, warga Dusun Krasak Desa Pancakarya Kecamatan Ajung, mengadukan nasib malang istrinya, Rohati, selama bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi.

Didampingi Serikat Buruh Migran Indonesia Jember, Slamet mendatangi kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat, Rabu (22/12/2010). "Saya menuntut Kepala Disnakertrans Jember untuk mendesak PT PMA (perusahaan pengiriman TKI) untuk bertanggungjawab, atas hak-hak istri saya yang belum terpenuhi," katanya.

Slamet juga mendesak agar Kadisnakertrans mengusut tuntas dan menindaktegas perempuan berinisial Las, yang merekrut istrinya secara tak sah. "Kami mendesak kepada Kadisnakertrans agar menjamin pemenuhan hak gaji istri saya selama sembilan bulan yang belum terbayarkan," katanya.

Derita ini berawal saat Las menawari kerja di luar negeri dan merekrut Rohati tanpa sepengetahuan Slamet. Rohati dikirim ke PT PMA selama satu bulan, dan diberangkatkan ke Arab Saudi pada 17 DEsember 2007.

Di Saudi, Rohati bekerja sejak pukul tujuh pagi hingga satu dinihari. Bahkan, saat bulan puasa, ia harus bekerja hingga pukul lima pagi. "Istri saya setiap hari sering mendapatkan makanan sisa untuk dimakan," kata Slamet.

Bekerja setahun, Rohati sering dipukul dengan tangan dan sapu oleh sang majikan. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah, dan setiap kali selesai bekerja langsung disekap di dalam kamar. Rohati juga dilarang berhubungan dengan keluarga.

Beberapa kali Rohati meminta gaji, selalu tak dikabulkan. Ia tak tahan, namun takut meminta pulang ke tanah air kepada PT PMA, karena jika kontraknya gagal diselesaikan, maka ia harus membayar denda Rp 40 juta.

Frustasi, Rohati sempat nekat melompat dari loteng lantai dua tempat tinggalnya. Untunglah, ia selamat. Dan pada 11 Agustus 2010, ia berhasil pulang ke tanah air.

Sayang seribu sayang, janji dari sang majikan untuk mentransfer gaji yang belum dibayar tinggal janji. PT PMA pun lepas tangan. "Malah setelah tiga hari kepulangan istri saya, Las datang ke rumah dan meminta uang sebesar tiga bulan gaji. Istri saya menolak dan kami minta pertanggungjawabannya," kata Slamet.

Yang keterlaluan, pada 21 Desember ada seseorang yang mengaku berasal dari aparat pemerintahan meminta kepada Rohati untuk tak mengadukan kasus itu ke polisi dan DPRD Jember. [bjt]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar